Dilihat 0 Kali

01_612_seminar series.jpg

Kamis, 30 Juli 2026 09:56:00 WIB

MENGUKUHKAN DAN MENGUATKAN RELEVANSI ILMU ADAB DI ERA KECERDASAN ARTIFISIAL, FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA UIN SUNAN KALIJAGA GELAR SEMINAR SERIES II

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kemampuan AI dalam menghasilkan informasi, menerjemahkan bahasa, mengolah data, hingga menciptakan berbagai bentuk karya digital menghadirkan tantangan baru bagi disiplin ilmu humaniora, khususnya ilmu adab. Kondisi tersebut mendorong perlunya ruang akademik yang mampu mendiskusikan kembali posisi ilmu adab agar tetap memiliki relevansi di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai kemanusiaannya.

Berangkat dari semangat tersebut, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Series II bertajuk "Konsep Ilmu Adab dan Kontekstualisasinya di Era AI" pada Selasa, 28 Juli 2026 bertempat di Ruang Teatrikal Lantai 1 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka, yaitu Prof. Dr. Darsita Suparno, S.S., M.Hum., CIQnR., Prof. Dr. Yulia Nasrul Latifi, M.Hum., dan Prof. Dr. Machasin, M.A., serta dimoderatori oleh Dr. Aning Ayu Kusumawati, M.Si. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Nurdin, S.Ag., S.S., M.A. selaku Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Nurdin, S.Ag., S.S., M.A. menyampaikan bahwa penyelenggaraan Seminar Series merupakan hasil dari berbagai diskusi yang berkembang di lingkungan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya mengenai pentingnya merumuskan kembali makna ilmu adab di tengah perubahan zaman. Menurut beliau, ilmu adab merupakan disiplin yang bersifat dinamis sehingga perlu terus dikaji melalui berbagai perspektif, baik dari kalangan akademisi internal maupun eksternal. Beliau juga berharap seminar ini mampu melahirkan gagasan-gagasan baru yang dapat memperkuat identitas Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, termasuk menjadi langkah awal dalam merumuskan formulasi tagline fakultas yang lebih representatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Darsita Suparno, S.S., M.Hum., CIQnR. yang mengangkat fenomena Miracle of Nature sebagai refleksi terhadap kecerdasan alami makhluk hidup. Beliau menjelaskan bahwa alam telah memperlihatkan berbagai bentuk kecerdasan jauh sebelum manusia mengenal teknologi modern. Burung, misalnya, mampu membangun sarang dengan struktur yang sangat kompleks tanpa bantuan teknologi, sedangkan lebah menghasilkan sarang dengan tingkat presisi yang luar biasa. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan bukan semata-mata lahir dari teknologi, melainkan telah menjadi bagian dari sistem kehidupan yang diciptakan Tuhan. Menurut beliau, manusia perlu belajar dari alam mengenai keteraturan, kreativitas, komunikasi, dan kemampuan membangun kehidupan sebagai fondasi dalam mengembangkan teknologi yang tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Selanjutnya, Prof. Dr. Yulia Nasrul Latifi, M.Hum. memaparkan materi mengenai perkembangan sastra digital pada era Revolusi Industri dan Artificial Intelligence. Beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia memproduksi, menyebarluaskan, serta mengapresiasi karya sastra melalui berbagai platform digital. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi bentuk teks, tetapi juga melahirkan pergeseran budaya serta cara masyarakat memaknai sebuah karya. Menurut beliau, sastra digital Arab berkembang dengan beragam istilah dan karakteristik yang menuntut akademisi untuk terus mengikuti perkembangan zaman. Meskipun AI mampu membantu proses kreatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat yang mendukung kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Sebab, nilai estetika, pengalaman batin, interpretasi, dan orisinalitas tetap menjadi kekuatan utama yang hanya dimiliki manusia sebagai pencipta karya sastra.

Materi selanjutnya kemudian disampaikan oleh Prof. Dr. Machasin, M.A. dengan mengangkat tema utama seminar mengenai Konsep Ilmu Adab dan Kontekstualisasinya di Era AI. Beliau menjelaskan bahwa selama ini ilmu adab sering dipahami hanya sebagai rumpun disiplin bahasa, sastra, sejarah, maupun perpustakaan, padahal hakikat ilmu adab jauh lebih luas sebagai ilmu yang mengkaji produksi, pewarisan, pelestarian, penafsiran, serta transformasi pengetahuan dan kebudayaan manusia. Dalam konteks perkembangan AI, beliau menegaskan bahwa kecerdasan artifisial memang mampu melakukan berbagai pekerjaan teknis seperti menerjemahkan bahasa, mengolah arsip, hingga menganalisis data, namun AI tidak memiliki kemampuan memahami makna, nilai, pengalaman hidup, moral, maupun konteks budaya sebagaimana manusia. Oleh karena itu, masa depan ilmu adab justru semakin penting karena berperan membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, menjaga memori kolektif, menafsirkan kebudayaan secara bijaksana, serta memanfaatkan teknologi secara etis demi keberlanjutan peradaban manusia. Ilmu adab, menurut beliau, bukan sekadar mempelajari masa lalu, melainkan menjadi fondasi dalam membangun peradaban masa depan yang humanis di era digital.

Seminar berlangsung semakin dinamis melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu oleh Dr. Aning Ayu Kusumawati, M.Si. Berbagai pertanyaan diajukan oleh peserta, mulai dari relevansi ilmu adab di masa depan, penggunaan algoritma dalam kehidupan akademik, transformasi makna adab dalam kehidupan kampus, rendahnya minat baca generasi muda, hingga strategi menjaga eksistensi ilmu humaniora di tengah perkembangan AI. Para narasumber sepakat bahwa ilmu adab akan selalu memiliki posisi yang strategis karena berorientasi pada pembentukan manusia dan peradaban. AI dapat membantu manusia dalam berbagai pekerjaan teknis, namun tidak dapat menggantikan kemampuan manusia dalam membangun nilai, etika, kreativitas, maupun kebijaksanaan yang menjadi inti dari ilmu adab itu sendiri.