Perkembangan Artificial
Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai
aspek kehidupan, termasuk pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan ilmu
pengetahuan. Kemampuan AI dalam menghasilkan informasi, menerjemahkan bahasa,
mengolah data, hingga menciptakan berbagai bentuk karya digital menghadirkan
tantangan baru bagi disiplin ilmu humaniora, khususnya ilmu adab. Kondisi
tersebut mendorong perlunya ruang akademik yang mampu mendiskusikan kembali
posisi ilmu adab agar tetap memiliki relevansi di tengah perubahan zaman tanpa
kehilangan jati diri dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Berangkat dari semangat tersebut, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
menyelenggarakan Seminar Series II
bertajuk "Konsep Ilmu Adab dan
Kontekstualisasinya di Era AI" pada Selasa, 28 Juli 2026 bertempat di Ruang Teatrikal Lantai 1 Fakultas Adab dan Ilmu
Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seminar ini menghadirkan
tiga narasumber terkemuka, yaitu Prof.
Dr. Darsita Suparno, S.S., M.Hum., CIQnR., Prof. Dr. Yulia Nasrul Latifi, M.Hum.,
dan Prof. Dr. Machasin, M.A.,
serta dimoderatori oleh Dr. Aning Ayu
Kusumawati, M.Si. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Nurdin, S.Ag., S.S., M.A.
selaku Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Prof.
Dr. Nurdin, S.Ag., S.S., M.A. menyampaikan bahwa
penyelenggaraan Seminar Series merupakan hasil dari berbagai diskusi yang
berkembang di lingkungan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya mengenai pentingnya
merumuskan kembali makna ilmu adab di tengah perubahan zaman. Menurut beliau,
ilmu adab merupakan disiplin yang bersifat dinamis sehingga perlu terus dikaji
melalui berbagai perspektif, baik dari kalangan akademisi internal maupun
eksternal. Beliau juga berharap seminar ini mampu melahirkan gagasan-gagasan
baru yang dapat memperkuat identitas Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, termasuk
menjadi langkah awal dalam merumuskan formulasi tagline fakultas yang lebih
representatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Darsita Suparno, S.S., M.Hum., CIQnR. yang
mengangkat fenomena Miracle of Nature
sebagai refleksi terhadap kecerdasan alami makhluk hidup. Beliau menjelaskan
bahwa alam telah memperlihatkan berbagai bentuk kecerdasan jauh sebelum manusia
mengenal teknologi modern. Burung, misalnya, mampu membangun sarang dengan
struktur yang sangat kompleks tanpa bantuan teknologi, sedangkan lebah
menghasilkan sarang dengan tingkat presisi yang luar biasa. Fenomena tersebut
menunjukkan bahwa kecerdasan bukan semata-mata lahir dari teknologi, melainkan
telah menjadi bagian dari sistem kehidupan yang diciptakan Tuhan. Menurut
beliau, manusia perlu belajar dari alam mengenai keteraturan, kreativitas,
komunikasi, dan kemampuan membangun kehidupan sebagai fondasi dalam
mengembangkan teknologi yang tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Selanjutnya, Prof. Dr.
Yulia Nasrul Latifi, M.Hum. memaparkan materi mengenai
perkembangan sastra digital pada era Revolusi Industri dan Artificial
Intelligence. Beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah
cara manusia memproduksi, menyebarluaskan, serta mengapresiasi karya sastra melalui
berbagai platform digital. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi bentuk
teks, tetapi juga melahirkan pergeseran budaya serta cara masyarakat memaknai
sebuah karya. Menurut beliau, sastra digital Arab berkembang dengan beragam
istilah dan karakteristik yang menuntut akademisi untuk terus mengikuti
perkembangan zaman. Meskipun AI mampu membantu proses kreatif, hasil penelitian
menunjukkan bahwa teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat yang mendukung
kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Sebab, nilai estetika, pengalaman
batin, interpretasi, dan orisinalitas tetap menjadi kekuatan utama yang hanya
dimiliki manusia sebagai pencipta karya sastra.
Materi selanjutnya kemudian disampaikan oleh Prof. Dr. Machasin, M.A. dengan mengangkat
tema utama seminar mengenai Konsep
Ilmu Adab dan Kontekstualisasinya di Era AI. Beliau menjelaskan
bahwa selama ini ilmu adab sering dipahami hanya sebagai rumpun disiplin
bahasa, sastra, sejarah, maupun perpustakaan, padahal hakikat ilmu adab jauh
lebih luas sebagai ilmu yang mengkaji produksi, pewarisan, pelestarian,
penafsiran, serta transformasi pengetahuan dan kebudayaan manusia. Dalam
konteks perkembangan AI, beliau menegaskan bahwa kecerdasan artifisial memang
mampu melakukan berbagai pekerjaan teknis seperti menerjemahkan bahasa,
mengolah arsip, hingga menganalisis data, namun AI tidak memiliki kemampuan
memahami makna, nilai, pengalaman hidup, moral, maupun konteks budaya
sebagaimana manusia. Oleh karena itu, masa depan ilmu adab justru semakin
penting karena berperan membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, menjaga
memori kolektif, menafsirkan kebudayaan secara bijaksana, serta memanfaatkan
teknologi secara etis demi keberlanjutan peradaban manusia. Ilmu adab, menurut
beliau, bukan sekadar mempelajari masa lalu, melainkan menjadi fondasi dalam
membangun peradaban masa depan yang humanis di era digital.
Seminar berlangsung semakin dinamis melalui sesi diskusi dan tanya
jawab yang dipandu oleh Dr. Aning Ayu
Kusumawati, M.Si. Berbagai pertanyaan diajukan oleh peserta,
mulai dari relevansi ilmu adab di masa depan, penggunaan algoritma dalam
kehidupan akademik, transformasi makna adab dalam kehidupan kampus, rendahnya
minat baca generasi muda, hingga strategi menjaga eksistensi ilmu humaniora di
tengah perkembangan AI. Para narasumber sepakat bahwa ilmu adab akan selalu
memiliki posisi yang strategis karena berorientasi pada pembentukan manusia dan
peradaban. AI dapat membantu manusia dalam berbagai pekerjaan teknis, namun tidak
dapat menggantikan kemampuan manusia dalam membangun nilai, etika, kreativitas,
maupun kebijaksanaan yang menjadi inti dari ilmu adab itu sendiri.