Rabu, 04 Februari 2009
ADONIS, SASTRA DAN PEMBEBASAN
Adonis : Tak Ada Sastra Islam
07/11/2008 08:36:22 KEHADIRAN sastrawan kondang kelas dunia, Adonis, dalam studium general yang digelar Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta - LkiS, Rabu (5/11), sangat menarik perhatian kalangan akademisi, seniman, budayawan dan peminat masalah Islam. Kegiatan diadakan di Ruang promosi Doktor Pascasarjana seolah menjadi tempat istimewa untuk menyambut pemikir Islam yang juga dikenal sebagai kritikus sastra kontroversial asal Syria itu. Mereka menanti pernyataan-pernyataan yang akan dilontarkan oleh pemilik nama asli Ali Ahmad Said yang kini berusia 78 tahun dalam studium general yang mengambil tema ‘Sastra Islam Pembebasan’. Di forum spesial itu, Adonis yang berambut gondrong dan berpenampilan santai itu mengemukakan pandangannya bahwa dalam masyarakat Islam ada dua pemahaman, yaitu yang melihat Islam yang berdasarkan wahyu dan Islam berdasarkan pengalaman dan interaksi manusia. Bagian pertama, semua umat Islam harus tunduk padaNya. Sedangkan bagian kedua diserahkan kepada ijtihad atau pemikiran manusia untuk memikirkannya sesuai dengan kebutuhan dan lingkungannya. Berkaitan dengan dunia sastra, Adonis berpendapat bahwa sastra Islam itu tidak ada. Tapi yang ada adalah sastra di kalangan masyarakat muslim. “Pada masa awal Islam sastra atau puisi itu mati, padahal sebelumnya sangat subur dan dikenal dengan nama Sastra Jahili,” katanya. Hal ini disebabkan sastra ditarik ke ranah ideologi, yaitu dengan banyaknya kutipan-kutipan alquran ataupun alhadis. Orang akan lebih memilih langsung membaca teks alqurannya dari pada puisi yang dicampuradukkan dengan alquran. Dengan demikian jika sastra sudah diseret ke ranah ideologi atau politik maka tinggal menunggu kehancurannya. Oleh karena itu, tandas Adonis, biarkanlah sastra itu bebas merdeka tidak boleh dikaitkan dengan embel-embel apa pun juga. Menurutnya, pada masa sekarang dunia sedang mengalami krisis. Tetapi bukanlah krisis pembuatan teks atau buku, karena masih banyak pengarang atau penerbit yang memroduksi teks atau buku. Krisis di sini adalah dalam cara pembacaan (pemahaman) teks atau buku itu termasuk di dalamnya cara pembacaan alquran al-Karim. Mendapat pertanyaan dari peserta studium general tentang penyusunan puisi yang dilakukan Abu Nuwwas yang konon didahului minum arak (khamr), sehingga karya puisinya banyak memuat kata-kata khamr. Adonis menjawab, “Ini merupakan salah satu contoh pembacaan teks yang keliru. Karena khamr di sini tidak diartikan dengan minuman yang memabukkan, tetapi suatu keadaan yang klimaks yang bisa melupakan semua yang ada di sekitarnya.” Ditanyakan juga tentang kemiripannya dengan al-Ma’ary, sastrawan pendahulunya sama-sama dari Syria dan sama-sama dicap oleh sebagian ulama sebagai orang murtad. Adonis mengemukakan bahwa seorang penyair sangat sulit untuk menilai dirinya dan menafsirkan apa yang ia katakan, karena ia sendiri sering lupa tentang apa yang ia katakan. Ia menegaskan, puisi pada masa kini tidak perlu sama seperti puisi zaman dahulu yang terikat oleh kaidah-kaidah arudl wal-qawafi (ilmu yang membahas notasi dan kesamaan bunyi akhir). “Biarkanlah puisi itu meluncur bebas. Bahasa puisi adalah bahasa yang tidak biasa digunakan orang lain atau tidak digunakannya bahasa yang si pencipta tahu lebih dahulu dari pada orang lain. Hanya penyair pemikir yang abadi dikenang zaman.” Sementara itu Dekan Fak Adab UIN Suka, Dr H Syihabuddin Qalyubi Lc MA salam sambutannya mengatakan bahwa Fak Adab berusaha senantiasa meningkatkan perannya dalam pengembangan bahasa dan sastra, antara lain kerja sama dengan instansi dan yang berkompetensi, serta mendatangkan para pakar di bidangnya, seperti Prof Dr Eckehard Schulz, Dr Thoralf Hanstein ahli bahasa Arab dari Leipzig University Jerman, Syekh Mohammad Nagy Ahmad Abd Qadir dari al-Azhar University Mesir, dan Aly Ahmad Sa’id Adonis dari Perancis. “Adonis adalah seorang kritikus, penyair, pemain teater, dan penerjemah yang ulung berperan aktif dalam tulisan-tulisannya dan kreativitasnya untuk mengembangkan budaya Arab modern dan mengubahnya dari sastra Arab klasik. Dalam analisis sastra ia banyak menggunakan metode struktural, semiotik, dan dekonstruksi. Langkah-langkah yang dilakukannya sangat diharapkan menjadi inspirasi bagi sastrawan di Indonesia dan mahasiswa fak Adab pada khususnya,” katanya.. (Cdr)-k Sq
sumber: sq (Fakultas Adab)